Gunung Sagara adalah gunung di wilayah timur Kabupaten Garut. Tepatnya di Kampung Sagara, Desa Tenjonagara, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. |
Dari pasar, kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp Gunung Sagara. Mengikuti petunjuk peta, kami memasuki gang-gang di antara rumah warga. Menurut informasi, akses ke basecamp dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek lokal. Kami memilih opsi kedua untuk menghemat waktu dan tenaga, dengan tarif Rp 30.000 per orang hingga Pos 1.
Sebelum mendaki, kami singgah di rumah salah satu warga yang ramah dan sopan. Beliau mengizinkan kami menggunakan fasilitas rumahnya untuk bersiap-siap, termasuk air minum dan kamar mandi. Kebaikan hati tuan rumah menambah semangat kami untuk memulai pendakian.
Trek menuju puncak Gunung Sagara cukup menantang, terutama bagi pendaki pemula. Jalur yang terus menanjak tanpa landai membuat kami sering berhenti untuk mengatur napas. Perubahan cuaca yang cepat, dari panas ke berkabut, menambah tantangan tersendiri. Saya sempat merasa pusing dan lemas karena belum sarapan nasi sebelum mendaki. Beruntung, seorang teman membawa ubi Cilembu sebagai camilan penambah energi, sehingga saya bisa melanjutkan pendakian hingga puncak.
Kami mencapai puncak sekitar tengah hari, disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. Jumlah pendaki yang sedikit memberi kami keleluasaan untuk berfoto dan menikmati keindahan alam. Kami bersabar menunggu kabut tebal menghilang agar dapat melihat Talaga Bodas yang berbentuk seperti ukiran hati dari ketinggian.
| Menurut Wikipedia: Dengan ketinggian 2.132 mdpl, puncaknya menghadirkan pemandangan alam yang tidak akan pernah terlupakan.gunung ini merupakan gunung berapi aktif |
Wikipedia menuliskan bahwa: Mitos yang berkembang ditengah-tengah penduduk sekitar dinamakan dengan Gunung Sagara karena Gunung ini memiliki kesamaan dengan sagara (lautan) |
Setelah puas berfoto dan makan siang, kami segera turun. Perjalanan turun lebih cepat, dan setibanya di basecamp, kami beristirahat sejenak di warung yang menyediakan jajanan dan minuman dingin dengan es batu. Kesegaran minuman tersebut benar-benar menghilangkan lelah setelah pendakian.
Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Talaga Bodas untuk berkemah. Mengandalkan Google Maps, kami sempat tersesat dan menjelajahi kota Garut dengan jalanan yang kurang bersahabat. Setelah berbagai drama kesasar, kami tiba di lokasi kemah menjelang maghrib dan langsung berendam di air panas. Pengalaman berkemah di Talaga Bodas telah saya tulis di blog sebelumnya; silakan dibaca untuk cerita lengkapnya Klik di sini.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai tiket dan detail lainnya, kalian dapat membaca artikel andarabus.com
Semoga cerita perjalanan ini menginspirasi kalian untuk menjelajahi keindahan alam Indonesia. Selamat berpetualang!
0 Comments