Perjalanan Seadanya, Kenangan Selamanya: Sate Maranggi & Bandung

Perut kenyang makan sate. foto pun jadi happy 😁

Berawal dari pengen makan sate maranggi Hj. Yeti di Purwakarta, sampe bela-belain bangun jam 3 pagi biar gak ketinggalan kereta.

Aku dan teman-temanku sudah merencanakan perjalanan ini sejak sebulan sebelumnya. Dari mulai mencari tahu jadwal kereta dari Manggarai ke Purwakarta—niat awalnya biar lebih hemat—sampai diskusi panjang soal tempat makan yang wajib dikunjungi. Semua sudah tersusun rapi, dan akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu.

Hari itu, aku sudah bangun dari jam tiga pagi. Entah kenapa, rasanya nggak bisa tidur karena terlalu excited. Kami semua sepakat untuk berkumpul di Stasiun Manggarai jam lima pagi. Tapi tentu saja, perjalanan tanpa drama itu nggak seru! Hujan yang nggak berhenti sejak malam sebelumnya membuat suasana makin menantang. Meski begitu, semangat kami nggak luntur. Ini adalah hari yang sudah lama kami nantikan!

Pagi itu penuh dengan kejadian yang nggak terduga. Ada yang hampir ketinggalan kereta, ada yang nyasar ke peron lain, dan ada juga yang masih sibuk mencari sarapan di menit-menit terakhir sebelum berangkat. Bahkan, kami sempat terpisah di tengah perjalanan. Untungnya, semua akhirnya sampai di tempat yang sama: Sate Maranggi Hj. Yeti di Purwakarta!

Begitu tiba di lokasi, aroma sate maranggi yang khas langsung menyambut kami. Tempatnya cukup ramai, tapi pelayanannya tetap cepat. Kami langsung memesan beberapa porsi sate maranggi dengan nasi dan menu lainnya sebagai pelengkap. Daging satenya empuk, bumbunya meresap, dan ada sedikit rasa manis yang khas dari sate maranggi.

Obrolan di meja makan jadi semakin seru. Kami membahas betapa dramatisnya perjalanan tadi, tertawa mengenang kejadian-kejadian konyol yang baru saja dialami. Makan sate di tengah suasana mendung dan udara yang sejuk setelah hujan membuat pengalaman ini semakin sempurna.

Ternyata, dari Stasiun Purwakarta kami naik taksi online menuju ke Sate Maranggi Hj. Yeti. Itu lebih praktis daripada harus jalan kaki atau mencari transportasi lain.

Selama makan dan sambil ngobrol-ngobrol, eh malah pada inisiatif buat extend ke Bandung karena udah deket dari Purwakarta. Awalnya ada dua orang yang nggak mau ikut, tapi aku dan teman-teman yang lain meyakinkan agar mereka bisa ikut dan berhasil. Pada saat itu juga langsung pesan tiket kereta untuk pulang ke Jakarta dari Bandung, random banget sumpah.




Awalnya kami mau naik kereta dari Purwakarta ke Bandung, tapi jadwal keretanya tidak memungkinkan untuk kami menunggu karena mengejar waktu biar bisa pulang malam dari Bandung. Akhirnya, kami naik bus Primajasa tepat di depan Sate Maranggi. Untuk ongkosnya aku lupa berapa karena ini sudah lama dari 2022. Sesampainya di Bandung, kami diturunkan di pertengahan jalan dan harus berjalan kaki. Kami bahkan memanjat tembok menggunakan tangga buatan warga sekitar dan bayar Rp2.000. 



Setelah itu, kami langsung menuju Ciwalk Bandung untuk beristirahat di McDonald's. Di sana, kami berdiskusi tentang tujuan selanjutnya dan bagaimana cara ke sana. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan naik angkot sampai ke Braga 🤣. 





Tidak lupa untuk foto di Jl Braga 😉

Katanya sih asal muasal nama "Braga" sendiri memunculkan beragam versi. Ada yang menyebutnya berasal dari nama seorang penulis naskah drama, Theotila Braga.

Sedangkan Para ahli sastra Sunda menyebut bahwa nama Braga merujuk pada kata "Baraga" yakni jalan di tepi sungai, dimana Jalan Braga memanglah terletak di tepi Sungai Cikapundung.



***Setelah puas jalan-jalan di Braga, kami lanjut jalan kaki ke tempat bersejarah di Bandung. 


Aku gak tau ekspresi ini untuk menunjukan apa 😆


Pada era Wiranatakusumah, ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Dayeuhkolot ke Kota Bandung saat ini. Wiranatakusumah juga dianggap sebagai pendiri Kota Bandung

Siapa Wiranatakusumah? dikutip dari laman Googgle:

Raden Adipati Wiranatakusumah II atau Dalem Kaum I adalah Bupati Bandung ke-6 yang menjabat dari tahun 1794 hingga 1829. Wiranatakusumah merencanakan pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke area lahan kosong di tepi barat Sungai Cikapundung. Pembangunan kota Bandung dipimpin langsung oleh Wiranatakusumah. Kota Bandung diresmikan sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung pada 25 September 1810.



Setelah puas foto-foto dan menikmati suasana, kami naik taksi online ke Sudirman Foodcourt Bandung. Di sana, kami mengeksplor berbagai tempat dan akhirnya memutuskan makan di salah satu restoran Chinese. Tempatnya lumayan ramai, makanannya enak, dan suasananya nyaman.




Setelah selesai makan, kami lanjut jalan kaki ke stasiun. Niatnya sih biar menikmati Bandung di malam hari dan sekaligus mencerna makanan dengan lebih santai. Perjalanan ini benar-benar random dan penuh kejutan, tapi justru itu yang membuatnya seru!

Dan kami pun pulang sekitar jam 9 atau 10 malam dari Bandung ke Jakarta. Begitulah akhir dari perjalanan singkat kami. Meski spontan dan penuh kejutan, pengalaman ini benar-benar tak terlupakan!

****

ini adalah rangkuman perjalanan trip kami 





 

Post a Comment

0 Comments