Survival di Kawah Ratu: Dari Trekking Nyaman ke Perjalanan Mencekam

Kawah Ratu terbentuk dari letusan Gunung Salak pada tahun 1938. Kawah ini merupakan kawah terluas dan termuda di Gunung Salak

Kami berangkat dengan penuh semangat dari titik kumpul di Cawang UKI sekitar pukul 7 pagi. Tujuan kami? Kawah Ratu, sebuah jalur trekking yang katanya cocok untuk pemula dengan pemandangan yang luar biasa. Rombongan ini terdiri dari para petualang dari komunitas ODT BPJ, dan seperti biasa, perjalanan dimulai dengan obrolan seru dan candaan yang membuat suasana begitu hangat. 
Setibanya di basecamp sekitar pukul 9 pagi, kami menyempatkan diri untuk sarapan dan mempersiapkan perlengkapan trekking. Tapi karena terlalu santai menikmati pagi, kami baru mulai perjalanan sekitar pukul 10. Jalur trekking cukup landai dan bersahabat, meskipun tetap harus berhati-hati. Udara segar dan rimbunnya pepohonan membuat perjalanan terasa menyenangkan. 
Setelah berjalan kurang lebih tiga jam, kami akhirnya tiba di Kawah Ratu sekitar pukul 1 siang. Aroma belerang menyambut kami, diiringi pemandangan kawah yang eksotis dengan uap yang terus mengepul. Tentu saja, sesi foto-foto tidak bisa dilewatkan. Setiap sudut terasa begitu Instagramable, dan tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat.

 

Kawah Ratu terbentuk karena erupsi freatik yang sering terjadi di Gunung Salak

Kawah Ratu merupakan salah satu lokasi terbaik untuk para pendaki pemula sebelum mendaki gunung yang lebih tinggi

Masyarakat setempat meyakini bahwa Kawah Ratu memiliki nilai spiritual yang mendalam.


Kawah Ratu masih mengeluarkan air, uap panas, dan gas belerang.

Ketika matahari mulai condong ke barat, kami tersadar bahwa sudah hampir pukul 3 sore. Di peraturan tertulis jelas: tidak boleh berada di sekitar kawah setelah pukul 3. Dengan tergesa-gesa, kami bergerak menuju sebuah spot tidak jauh dari kawah untuk makan siang. Suasana awalnya masih santai, namun perlahan ada sesuatu yang berubah. Langit mulai gelap meskipun seharusnya masih cukup terang. 

Selesai makan, kami segera melanjutkan perjalanan pulang. Adzan Ashar berkumandang tepat ketika kami sampai di sebuah petilasan. Dan di sinilah kisah horor dimulai. 

Salah satu peserta trip tiba-tiba merasa sangat kebelet. Kami sudah mengingatkannya untuk menahan sebisa mungkin dan turun bersama, tapi dia bersikeras tidak tahan lagi. Akhirnya, dia masuk ke dalam semak-semak di sekitar petilasan setelah kami mengingatkannya untuk meminta izin dan berdoa. Sejak saat itu, suasana berubah drastis. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. 

Rombongan pun terbagi dua. Sebagian memilih untuk lanjut duluan dengan satu PIC, sementara yang lain menunggu peserta yang sedang 'menunaikan tugasnya' bersama PIC lainnya. Aku dan seorang teman memutuskan untuk menyusul rombongan depan. Dan jujur, aku tidak berani menoleh ke belakang, ke kanan, atau ke kiri. Aku hanya fokus menatap lurus ke depan, sambil terus berdoa. 

Temanku ini memiliki kepekaan lebih terhadap hal-hal yang tak kasat mata. Dia hanya berbisik lirih, "Jangan nengok, fokus aja ke jalan." Dan benar saja, sepanjang perjalanan kami berdua berjalan seperti robot, berusaha tidak memikirkan hal-hal aneh. Yang membuat situasi semakin mencekam, hutan tiba-tiba berubah gelap dalam sekejap, seperti hari sudah malam, padahal baru pukul 4 sore. 

Saat kami berhasil menyusul rombongan depan, ada masalah baru—salah satu peserta mengalami cedera kaki. Keadaan semakin menegangkan karena waktu terus berjalan, langit semakin gelap, dan kami harus berhadapan dengan jalur yang semakin licin akibat hujan tiba-tiba. Tidak hanya licin, jalur juga mulai banjir karena air mengalir deras dari atas menuju ke bawah. Kami harus meraba-raba jalan dengan kaki agar tidak terperosok ke dalam lubang besar di jalur air. 

Bang G, PIC kami, membantu membawa tas peserta yang cedera untuk mempercepat perjalanan. Aku dan beberapa yang lain memutuskan untuk tetap tinggal menemani mereka, sementara yang lain bergegas turun lebih dulu. Kami terus berdoa dan berkata 'permisi' sepanjang jalan, berharap bisa segera tiba di basecamp dengan selamat. 

Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan para ranger yang datang untuk menjemput rombongan kami. Mereka mengatakan bahwa kami sudah melewati batas waktu yang ditentukan. Kami segera memberi tahu mereka bahwa masih ada peserta di belakang yang membutuhkan bantuan. Para ranger langsung bergegas menuju arah mereka. 

Akhirnya, aku, Bang G, dan Tante A tiba di basecamp. Rasanya seperti telah menempuh perjalanan seharian penuh, padahal saat kami melihat jam, baru pukul 6 sore. Perjalanan turun yang terasa begitu panjang dan mencekam ternyata hanya memakan waktu sekitar dua jam. 

Dan di sinilah bagian paling aneh terjadi. 

Tak lama setelah kami tiba, rombongan belakang menyusul. Mereka bercerita bahwa di tengah perjalanan, mereka sempat bertemu rombongan lain yang membawa tas carrier, seolah-olah mereka adalah pendaki yang baru turun dari kemah. Para pendaki ini bahkan sempat berbincang sebentar dengan mereka. Namun, saat cerita itu sampai ke telinga para ranger, mereka terlihat heran. Menurut mereka, tidak ada rombongan lain yang turun setelah kami. Kami adalah rombongan terakhir. 

Saat itu, suasana langsung hening. Tidak ada yang berani banyak bicara. Kami semua hanya diam, berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa memilih untuk membersihkan diri, ada yang makan indomie goreng dan minum teh panas untuk menenangkan diri. Hujan masih terus turun deras, seakan tidak mau berhenti. 

Setelah keluar dari kawasan wisata Halimun Gunung Salak, barulah kami semua bisa berbicara lebih bebas. Kami saling berbagi pengalaman, dan semua sepakat bahwa ini adalah trip trekking yang tak akan pernah terlupakan. 

Meski begitu, jika mengesampingkan kisah horornya, Kawah Ratu tetap menjadi destinasi trekking yang cocok bagi pemula. Jalurnya tidak terlalu sulit, dan pemandangannya benar-benar memanjakan mata. Sayangnya, aku tidak sempat mengunjungi pemandian air panas belerang yang terkenal di sana karena terlalu kesiangan berangkat.

Jalurnya melintasi sungai-sungai kecil, kawah-kawah vulkanik, dan hutan



Jalurnya didominasi oleh bebatuan dan tanah

Trekking Kawah Ratu cocok untuk pendaki yang memiliki stamina fit karena medannya yang menantang 



Jadi, buat kalian yang ingin ke sini, pastikan datang lebih pagi agar perjalanan pulang tidak penuh drama seperti pengalaman kami. Dan tentu saja, selalu jaga etika dan hormati alam di setiap langkah perjalanan. Siapa tahu, ada 'penghuni' lain yang juga sedang mengawasi...


Post a Comment

0 Comments