 |
Jalan Malioboro adalah jalan di pusat Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga persimpangan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Jalan ini merupakan salah satu ikon Kota Yogyakarta yang terkenal baik di dalam maupun luar negeri |
Halo, teman-teman,
Akhir bulan Juli 2023, aku dan tiga teman tripku melakukan perjalanan ke Jogja. Kami sudah merencanakan trip ini jauh-jauh hari, dari itenary sampai dresscode. Semua sudah disiapkan dengan penuh semangat! Penasaran seperti apa petualangan seru kami? Yuk, simak perjalanan kami yang penuh kejutan dan momen-momen tak terlupakan!
1. Perjalanan Malam yang Penuh Semangat
Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 11 malam. Walaupun lelah setelah seharian beraktivitas, semangat kami tetap tinggi. Kami memang sudah menantikan trip ini sejak lama. Perjalanan kereta kami melewati beberapa perhentian dan tiba-tiba, pagi pun menyapa kami dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Hamparan sawah yang disinari cahaya matahari pagi dengan warna kemerahan membuat kami terpesona. Sayangnya, sebagian penumpang memilih tidur dan melewatkan momen indah itu. Mungkin mereka sudah sering ke Jogja, pikirku. Tapi buat kami, pemandangan itu terasa magis!
2. Dari Stasiun Lempuyangan Menuju Hotel Liberta Malioboro
Setelah tiba di Stasiun Lempuyangan sekitar pukul 7 pagi, kami langsung mengecek jarak menuju penginapan kami, Hotel Liberta Malioboro. Melihat di Google Maps, rasanya jaraknya dekat sekali. Kami memutuskan untuk berjalan kaki, hanya mengandalkan arahan dari Google Maps. Ternyata, perjalanan kami cukup panjang. Kami melangkah dari stasiun, masuk gang-gang kecil yang dipenuhi penginapan, hingga tiba di Jalan Malioboro. Kami terus berjalan, melewati pasar Beringharjo, dan masih harus belok beberapa kali hingga akhirnya sampai di hotel. Ternyata, jaraknya jauh sekali! Walaupun sudah lelah, kami tetap senang bisa tiba di hotel. Kami menitipkan tas di resepsionis karena kamar belum bisa langsung kami tempati.
3. Eksplorasi Pagi di Pasar Beringharjo dan Sarapan Gudeg Mbok Lindu
Setelah menitipkan tas, kami langsung berangkat menuju Pasar Beringharjo menggunakan becak motor. Kami sampai di pasar sekitar pukul 9.30 pagi, namun karena terlalu pagi, banyak toko yang masih tutup. Kami mengantar temanku yang ingin membeli atasan kebaya untuk dresscode. Aku juga sempat mampir ke toilet pasar yang menurutku sangat bersih dan airnya segar. Setelah temanku berhasil membeli kebayanya, kami pun memutuskan untuk sarapan, meskipun sudah sedikit terlambat, di Gudeg Mbok Lindu. Kami makan di pinggir jalan, duduk di kursi pendek, dan menikmati makanan yang lezat. Tempat ini cukup ramai, dengan antrean panjang, tapi rasanya memang enak sekali!
 |
| Momen ketika makan gudeg, sarapan yang kesiangan |
 |
| POV: Naik becak motor |
4. Lava Tour Merapi: Mengunjungi Petilasan Mbah Maridjan dan Bunker Kaliadem
Usai sarapan, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk petualangan berikutnya: Lava Tour Merapi. Kami bertiga pergi menggunakan taksi online, sementara satu teman lainnya memutuskan untuk beribadah ke gereja. Setelah tiba di basecamp Lava Tour Merapi, kami diberi tahu bahwa area ini cukup jauh dari kota, jadi kemungkinan pulangnya agak sulit mendapatkan taksi online. Driver yang ramah menawarkan untuk menunggu kami selesai tour dan mengantarkan kami pulang. Tentu saja kami menyetujui tawaran tersebut!
Tour dimulai dengan naik jeep bersama driver yang sekaligus menjadi tour guide kami. Kami diajak menyusuri jalan berdebu menuju petilasan kediaman Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi yang legendaris. Di sini, guide kami menceritakan kisah heroik Mbah Maridjan dalam menghadapi erupsi Merapi. Kami juga mengunjungi bunker Kaliadem, yang dulunya digunakan untuk berlindung dari erupsi. Masuk ke dalam bunker itu terasa sangat pengap dan gelap, betapa beratnya bagi para pengungsi yang harus bertahan di sana. Kami melanjutkan perjalanan ke museum Galeri Omahku Memoriku yang memamerkan barang-barang rumah tangga terkena abu vulkanik yang kini menjadi benda seni penuh kenangan.
Tour berlanjut dengan pemandangan indah gunung Merapi. Kami berhenti di titik yang sangat indah untuk foto-foto, dan tidak lupa tour guide kami memberikan penjelasan tentang lokasi yang kami lewati. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke off-road air, di mana kami diberi jas hujan sekali pakai untuk menghindari percikan air. Di sini, kami bisa menyewa jasa foto dan video dengan harga 20.000, dan meskipun tidak terlalu murah, pengalamannya sungguh seru!
 |
| Kami berdiri tepat didepan rumah Juru Kunci Gunung Merapi |
 |
| Berhenti sejenak disini untuk foto diatas jeep 😜 |
 |
| Tepat dibelakang kami dibawah tangga adalah bunker |
 |
| Di depan Musium Omahkoe |
 |
| Musium Omahkoe - Barang Rumah Tangga yang Terkena Abu Vulkanik |
 |
| Musium Omahkoe - Barang Rumah Tangga yang Terkena Abu Vulkanik |
 |
| Momen ketika offroad air |
 |
| Setelah selesai offroad air |
5. Ice Cream Gelato: Momen Santai di Malam Hari
Setelah puas dengan Lava Tour Merapi, kami kembali ke hotel menjelang maghrib. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami menuju ke Ice Cream Gelato yang terkenal di Jogja. Suasana di sana sangat ramai dengan turis dari berbagai belahan dunia. Walaupun banyak yang bilang rasanya enak, menurutku, rasa ice cream-nya biasa saja. Entahlah, mungkin lidahku yang sudah terbiasa dengan rasa lain. Tapi tetap saja, suasana dan obrolan santai bersama teman-teman membuat malam itu terasa sangat menyenangkan!
 |
| Designnya vintage banget ya, bagus banget buat foto |
 |
| selera kami berbeda ya |
 |
| Foto didepannya biar ada bukti kami pernah makan ice cream disana |
6. Taman Sari dan Kejutan dari Guide yang Menjadi Fotografer Dadakan
Paginya setelah selesai sarapan yang disediakan oleh Hotel, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Sari, sebuah situs bersejarah di Jogja. Kami menggunakan taksi online menuju lokasi dan tiba di sana dengan antusias. Begitu tiba, kami disambut oleh seorang guide yang akan menemani kami selama tur. Dia menawarkan untuk menjadi fotografer dadakan, dan tentu saja kami sangat senang! Namun, ternyata setelah tur selesai, dia meminta bayaran, dan kami agak terkejut karena seharusnya dia menjelaskan di awal. Walaupun begitu, kami tetap membayar dengan patungan, karena pengalaman ini tetap menyenankan.
 |
| Dresscode yang sudah direncanakan |
 |
| Ada yang kurang, satu teman kami sudah pulang duluan ke jakarta |
 |
| Abadikan momen disetiap sudut |
 |
| Mati gaya ? |
 |
| Tentunya tidak hehe |
 |
| Disinilah akhir dari wisata Taman Sari |
7. Alun-Alun Jogja yang Sepi dan Pengalaman Hampir Ketinggalan Kereta
Sebagai penutup perjalanan, kami berencana untuk mengunjungi Alun-Alun Jogja, yang terkenal dengan suasana malamnya yang ramai. Ternyata, alun-alun yang kami tuju sangat sepi dan gelap, dengan harga makanan yang jauh lebih mahal dari yang kami duga. Walaupun kecewa, kami tetap menikmati momen itu, sambil mampir ke Teras Malioboro untuk foto-foto.
Namun, kami terlalu asyik hingga hampir terlambat pulang. Tiket kereta kami berangkat pukul 21.30, dan kami baru keluar dari hotel sekitar pukul 9 malam! Kami sampai di stasiun jam 21.10, panik karena belum sempat print tiket, dan langsung berlari menuju gerbong yang ternyata ada di ujung. Bisa dibayangkan betapa lucunya jika momen itu difilmkan—kami berlarian tergopoh-gopoh seperti kartun, sambil tertawa-tawa! Untungnya, kami berhasil naik kereta tepat sebelum berangkat.
 |
| Karena alun-alunnya salah, jadi foto disini aja |
 |
| Karena aku gak foto disini, jadi pakai foto temanku aja hehe |
Kesimpulan
Perjalanan ke Jogja ini benar-benar penuh dengan kenangan indah yang tak akan terlupakan. Dari wisata sejarah, petualangan penuh debu di Lava Tour Merapi, hingga momen lucu hampir ketinggalan kereta, semuanya membuat perjalanan ini semakin berkesan. Jika kamu berencana ke Jogja, pastikan untuk mengunjungi tempat-tempat seperti Taman Sari, Lava Tour Merapi, dan tentu saja jangan lewatkan kuliner khas Jogja yang menggugah selera!
Mau tahu berapa biaya perjalananku? Detailnya Klik disini
2 Comments
Mari berperualang lagi 💃💃
ReplyDeleteAyooook kita ke.. Kemana aja yg lg hits 💃💃
Delete